FaktaID

Informasi Berita Terupdate

Januari 30, 2023

Istanbul (FaktaID) – Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida mengatakan pada Senin bahwa negara “harus melepaskan diri dari praktik-praktik tetap di masa lalu”.

Pernyataan Kishida itu muncul di tengah upaya Jepang memperkuat sistem pertahanannya.

“Jepang berada pada masa yang sangat penting, 77 tahun setelah berakhirnya Perang Dunia II,” kata Kishida kepada parlemen saat membuka sidang selama 15 hari di ibu kota Tokyo.

“Pemerintah harus melepaskan diri dari praktik tetap di masa lalu dan menciptakan hukum sosial, ekonomi, dan internasional yang sesuai dengan era baru,” kata Kishida kepada Diet (parlemen Jepang), lapor NHK.

Bulan lalu, Jepang mengadopsi strategi keamanan nasional baru yang akan memungkinkan angkatan bersenjata negara itu memperoleh apa yang disebutnya “kemampuan serangan balik”.

Strategi keamanan dan pertahanan utama yang diperbarui memberi militer Jepang kemampuan untuk melawan serangan dan melibatkan target di wilayah musuh untuk mencegah serangan.

Strategi tersebut juga memungkinkan pemerintah mengalokasikan 43 triliun yen (sekitar 5 kuadriliun rupee) dalam anggaran pertahanan selama lima tahun dari tahun fiskal 2023.

Strategi baru ini juga mengidentifikasi China sebagai “tantangan strategis terbesarnya”, Korea Utara sebagai “ancaman yang lebih besar dan lebih dekat dari sebelumnya”, dan Rusia sebagai “masalah keamanan yang serius”.

Menurut Kyodo News, Kishida mengatakan pemerintahannya “mengambil langkah-langkah untuk mengamankan dana yang cukup untuk mencapai tujuan menggandakan pengeluaran pertahanan tahunan menjadi sekitar dua persen dari PDB selama lima tahun ke depan, sama dengan anggota NATO.”

Dia menekankan keinginannya untuk membangun hubungan yang konstruktif dan stabil dengan China dan hubungan dekat dengan Korea Selatan.

Menurunnya tingkat kelahiran

Perdana Menteri Kishida mengatakan pemerintahnya akan memprioritaskan kebijakan yang memfasilitasi penitipan anak sebagai “investasi paling efektif untuk masa depan.”

Kishida memperingatkan bahwa negara berpenduduk 126 juta orang itu, yang berjuang melawan populasi yang menua, “di ambang kehilangan fungsi sosialnya dengan tingkat kelahiran yang menurun dengan cepat”.

Dia berkata: Tingkat kelahiran di Jepang diperkirakan kurang dari 800.000 orang per tahun.

Kishida berjanji untuk membalikkan angka kelahiran yang menurun di negara itu.

Dia mengatakan pemerintahnya akan berusaha untuk “menciptakan ekonomi dan masyarakat yang mengutamakan anak-anak” melalui Badan Anak dan Keluarga, sebuah badan pemerintah baru yang akan diluncurkan pada bulan April.

Sumber: Anadolu

Jepang minta Rusia negosiasikan izin penangkapan ikan
Perdana Menteri Jepang Kishida: Waktunya telah tiba untuk mencegah penurunan populasi

Penerjemah: Yoanita Hastryka Djohan
Editor: Anton Santoso