FaktaID

Informasi Berita Terupdate

Juni 9, 2023

Melindungi perempuan dan anak jika menjadi korban kekerasan.

Bandar Lampung (FaktaID) – Pemerintah Kota (Pemkot) Lampung membangun rumah aman untuk melindungi perempuan dan anak korban kekerasan.

“Ini salah satu inovasi kami. Sehingga kini kami memiliki rumah aman untuk melindungi perempuan dan anak jika terjadi kekerasan. Lokasinya akan dirahasiakan,” ujar Wahiu Ningsieh, Kepala Kantor PPPA-PPKB Kota Metro. Metro, Selasa (23/5).

Selain itu, ia mengatakan dalam upaya menegakkan hak-hak anak dalam menghadapi kekerasan terhadap perempuan dan anak, pihaknya bekerjasama dengan TP PKK Kota Metro membentuk Omah Hugging atau amanah dialog dan perilaku lemah lembut.

“Uma Hog nantinya akan menjadi layanan konseling dan resolusi ketika muncul masalah di lingkungan keluarga,” ujarnya.

KemenPPPA desak Pemprov Jatim evaluasi layanan rumah aman Surabaya
KPPPA Koordinasikan Perbaikan Layanan Rumah Aman di Surabaya

Selain itu, Omah Huddle juga akan menjadi wadah pemberdayaan masyarakat ketika muncul permasalahan dalam keluarga, seperti permasalahan anak dan perselisihan dengan pasangan atau pasangan.

“Pelukan Puspaga Omah merupakan inovasi dari pokja I TP PKK Kota Metro. Dan sudah ada di 22 kelurahan,” terangnya.

Dalam praktiknya, jelasnya, pihak PPPA-PPKB Kota Metro juga telah bekerjasama dengan Rumah Sakit Umum Ahmad Yani untuk melakukan pemeriksaan dan pengobatan trauma bagi anak dan perempuan korban kekerasan secara gratis.

Dia mengklarifikasi: “Kami telah bekerja sama dengan polisi, kantor kejaksaan dan pengadilan untuk proses hukum.”

Ia pun berharap dengan adanya inovasi ini, tidak ada lagi tindakan sewenang-wenang terhadap perempuan dan anak yang berujung pada pelanggaran dan tidak terpenuhinya hak-hak perempuan dan anak, karena keduanya kedudukannya dilindungi undang-undang.

Rumah harus jadi tempat paling aman dan nyaman untuk keluarga
Menteri Bintang meresmikan Rumah Sahabat Perempuan dan Anak
Menteri PPPA: Pentingnya rumah aman bagi penyintas kekerasan

Koresponden: Ruth Intan Suzumata Kanafee/Hendra Kurniawan
Editor: Budi Santoso