FaktaID

Informasi Berita Terupdate

Januari 29, 2023

… Energi fosil berupa minyak, gas bumi, dan batu bara terbukti masih dapat mendukung pertumbuhan ekonomi, khususnya bagi daerah.

Jakarta (FaktaID) – Ancaman resesi global tahun ini seperti momok yang menakutkan banyak negara di dunia, termasuk Indonesia, karena dapat menyebabkan perlambatan dan penurunan sektor ekonomi.

Presiden Joko Widodo menekankan Indonesia harus mampu menghadapi tantangan krisis, terutama ancaman resesi global.

“Kami berharap Indonesia tidak terkena dampak resesi global,” ujarnya pada awal Januari 2023.

Tentunya dalam kasus resesi, yang menjadi perhatian serius adalah sektor energi sebagai aspek fundamental perekonomian nasional. Tanpa energi, mesin pabrik yang mempekerjakan jutaan pekerja tidak akan bekerja. Tanpa energi, kendaraan yang mengangkut produk tidak akan bergerak secara terdistribusi.

Meski banyak ekonom memprediksikan hal buruk tentang resesi global, sektor energi di Indonesia cukup tangguh menghadapi ancaman tersebut karena negara memiliki sumber daya yang beragam untuk mendukung ketahanan dan kemandirian energi sebagai penggerak perekonomian nasional.

Kekuatan energi fosil

Di tengah pandemi yang melanda dan menjerumuskan Indonesia ke dalam resesi di akhir tahun 2020 hingga awal tahun 2021, bahan bakar fosil berupa minyak, gas bumi, dan batu bara terus mendukung pertumbuhan ekonomi, terutama untuk daerah. .

Satuan Tugas Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengumumkan bahwa setiap $1 juta yang diinvestasikan dalam minyak dan gas dapat menciptakan nilai tambah hingga $1,6 juta, menciptakan lebih dari 100 pekerjaan dan menambah PDB. (PDB) sekitar 700 ribu dolar AS.

Bagian ini belum termasuk penerimaan pemerintah dari sektor hulu migas. Padahal, 10% bagian hak partisipasi untuk daerah penghasil migas berkontribusi pada pajak dan bea daerah, menarik pekerja lokal, bisnis yang menyediakan barang dan jasa lokal, dan mempromosikan tanggung jawab sosial.

Pada 2020, porsi hulu migas dalam penerimaan pemerintah mencapai Rp 122 triliun atau 144% dari target APBN-P 2020.

Pada 2021, pendapatan pemerintah dari hulu migas mencapai US$13,67 miliar atau Rp206 triliun, mencapai 188,8% dari target APBN 2020 sebesar US$7,28 miliar.

Sejak April 2020, pemerintah menawarkan harga gas murah hanya US$6 per MMBTU untuk tujuh sektor industri dan listrik guna meningkatkan eksploitasi dan daya saing perusahaan dalam negeri.

Ketujuh industri tersebut adalah: industri pupuk, industri petrokimia, industri oleokimia, industri baja, industri keramik, industri kaca dan industri sarung tangan karet. Berkat gas murah, tujuh industri dan listrik bisa tetap beroperasi di tengah mahalnya harga gas.

Sementara itu, komoditas mineral dan batubara juga memberikan kontribusi positif terhadap penerimaan negara.

Pada 2021, penerimaan pemerintah dari sektor pertambangan dan batu bara mencapai Rp124,4 triliun. Angka ini sudah termasuk pajak, bea keluar dan PNBP pemerintah.

Status kaya sumber daya fosil Indonesia mempengaruhi sektor kelistrikan nasional, membuat tarif listrik Indonesia termasuk yang termurah di Asia Tenggara.

Rata-rata tarif listrik di Indonesia untuk pelanggan komersial menengah tegangan rendah adalah Rp 1445 per kilowatt. jam tangan (kilowatt jam). Ini lebih murah dari Malaysia Rp 1.735 per kWh, Vietnam Rp 1.943 per kWh dan Singapura Rp 2.110 per kWh.

Tarif grup niaga besar untuk tegangan menengah di Indonesia juga termurah di Asia Tenggara sebesar Rp1.115 per kWh, Malaysia Rp1.227 per kWh, Thailand Rp1.370 per kWh, Filipina Rp1.603 per kWh, Vietnam mencapai Rp 7 per kWh. kWh dan Singapura Rp 2.063 per kWh.

Ketika perekonomian negara bergerak lambat bahkan cenderung negatif, maka energi fosil Indonesia dapat menjadi motor penggerak roda perekonomian nasional menuju daerah.

energi terbarukan

Ketika harga bahan bakar fosil meningkat akibat konflik geopolitik antara Rusia dan Ukraina, Indonesia juga merasakan dampak dari situasi ini, harga minyak mentah naik di atas $100 per barel, harga gas di atas $10 per MMBTU. Dan harga batu bara menembus 400 dolar AS per ton.

Banyak negara, terutama di kawasan Eropa, menghadapi masalah akibat tingginya biaya bahan bakar fosil tersebut. Menanggapi krisis energi yang mereka hadapi, mereka mematikan lampu di banyak gedung.

Di Indonesia, krisis energi hanya berdampak kecil. Produk bahan bakar minyak mengalami kondisi terburuk. Perusahaan BBM terpaksa menaikkan harga produknya karena permintaan minyak mentah masih didominasi oleh impor.

Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar lebih dari 3.000 gigawatt, yang berasal dari tenaga surya, air, angin, dan lahar. Dengan kombinasi sumber daya fosil, negara ini mampu menghasilkan energi secara mandiri yang dapat mendukung ketahanan energi nasional.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, selama lima tahun terakhir, penambahan kapasitas pembangkit energi bersih hingga Juli 2022 sebesar 2.576 MW, dengan rata-rata kenaikan 5 persen per tahun.

Indonesia juga memiliki sejumlah strategi terkait pengembangan energi bersih untuk mendukung transisi energi, antara lain pembangunan pembangkit energi bersih. di jaringanImplementasi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap, konversi pembangkit listrik berbahan bakar minyak menjadi pembangkit energi bersih, instalasi teknologi Penembakan bersama Biomassa, eksplorasi panas bumi, hingga penerapan energi bersih Di luar jaringan.

Melalui berbagai kekuatan Indonesia, baik energi fosil maupun energi terbarukan, ancaman resesi global tahun ini bagi sektor energi bagaikan dongeng pengantar tidur yang justru mengajarkan Indonesia untuk meningkatkan ketersediaan energi, efisiensi energi dan terus berkreasi. Kemandirian energi tanpa perlu bergantung pada pihak ketiga.

Kementerian ESDM Percepat Implementasi Bioethanol

Kerja sama adalah kunci ketahanan energi berkelanjutan

Editor : Ahmad Zainal M

Editor : Ahmad Zainal M