FaktaID

Informasi Berita Terupdate

Januari 27, 2023

Jakarta (FaktaID) – Di penghujung tahun 1970-an, Prof. Saiogyo sempat memaparkan pandangannya tentang pentingnya pemahaman yang mendalam tentang perubahan sosial di hadapan mahasiswa Departemen Penyuluhan Pertanian, Departemen Sosial Ekonomi, Fakultas Pertanian, IPB.

Minggu berikutnya Profesor Sayogyo menjelaskan lebih detil hubungan antara perubahan sosial dan gambaran petani di pedesaan.

Mata kuliah perubahan sosial sangat menarik, mahasiswa yang mengikutinya merasakan betapa cepatnya waktu berlalu. Perjalanan satu semester tidak terlalu terasa.

Pria yang dijuluki “Bapak Kemiskinan” di Indonesia ini pun mengakhiri sambutannya dengan mengajak para mahasiswa untuk terus mencermati dan memperhatikan perubahan sosial yang terjadi di negeri ini.

Fenomena perubahan sosial dalam masyarakat yang sedang aktif berkembang dihadapkan pada dua perubahan yang sangat mendasar.

Yang pertama terkait dengan perubahan sistem nilai yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat, dan yang kedua terkait dengan perubahan struktur kelembagaan yang memperkuat sistem nilai tersebut.

Jelas dalam kehidupan petani pedesaan bahwa perubahan ini sedang terjadi. Banyak contoh yang bisa diberikan. Salah satunya adalah keengganan pemuda pedesaan untuk berpartisipasi dan bekerja sebagai petani padi.

Mereka lebih memilih bekerja di kota besar dengan pendapatan yang tidak pasti daripada harus bekerja di ladang menanam padi.

Tentu saja fenomena seperti itu tidak hanya terjadi di negeri ini. Di tahun 1960-an, Negeri Matahari Terbit juga mengalami hal yang tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di Indonesia.

Pemuda Jepang lebih tertarik meninggalkan profesi bertani untuk menyongsong kehidupan masa depannya. Mereka tidak diajak menjadi petani, karena bekerja di kantor dianggap lebih keren dan bergengsi.

Penghasilan tidak lagi menjadi kriteria. Meskipun mereka bekerja di gedung tinggi ber-AC dengan jas dan dasi, gaji mereka rendah, tetapi mereka tampaknya lebih tertarik pada mereka daripada bertani di pertanian, meskipun penghasilannya sebagai petani. Ini lebih tinggi daripada bekerja di kantor. Anak muda Jepang saat itu lebih memilih kredit daripada pendapatan.

Perubahan nilai dan kehidupan masyarakat desa semacam ini, tentunya membutuhkan perubahan paradigma dari kebijakan promosi pertanian yang selama ini diterapkan di Indonesia.

Emisi pertanian

Penyuluh pertanian di bidang ini harus mengkaji dengan seksama faktor-faktor apa saja yang menjadi penyebab utama dari perubahan tersebut. Penyuluh pertanian harus cerdas mencari solusi atas perubahan yang sedang berlangsung.

Salah satu perubahan besar yang saat ini terjadi dalam kehidupan petani adalah keinginan petani untuk meningkatkan taraf hidup pertaniannya.

Para petani padi berharap usahanya dibalas oleh pemerintah dengan peningkatan kesejahteraan yang lebih nyata. Petani menginginkan produk yang mereka hasilkan ditetapkan pada tingkat harga yang wajar.

Petani berharap kebijakan penyuluhan pertanian tidak hanya bermuara pada upaya peningkatan produksi yang sebesar-besarnya, tetapi peningkatan produksi tersebut dapat dijual dengan harga yang lebih menguntungkan petani.

Petani jemu melihat tingkah para calo atau tengkulak yang selalu mempermainkan harga jual di tingkat petani ketika produk utama beras datang.

Oleh karena itu penting adanya konten program penyuluhan pertanian yang berkaitan dengan sistem pemasaran dan manajemen pasca panen.

Petani tidak lagi dilihat sebagai produsen yang terikat untuk terus berproduksi, tetapi petani juga penting untuk didorong menjadi pengusaha. Ke depan, Indonesia membutuhkan petani wirausaha dan tidak lagi hanya menghasilkan petani subsisten.

Ini adalah salah satu inti dari babak baru promosi pertanian. Selain permintaan untuk terus melatih petani untuk terus meningkatkan produksi dengan menerapkan inovasi dan teknologi baru di bidang budidaya tanaman, promotor pertanian juga ditantang untuk mengedukasi petani tentang masalah sistem pemasaran dan harga yang menguntungkan. Untuk petani

Pembangunan pertanian penting untuk mendekatkan petani ke dunia usaha padi dan perberasan, sehingga beras yang mereka hasilkan selama ini memiliki nilai ekonomi riil yang dapat meningkatkan kesejahteraan mereka.

Di sinilah peran pemerintah sangat dibutuhkan, terutama dalam menentukan Harga Pembelian Umum (HPP) yang wajar berdasarkan kesejahteraan petani.

Pengalaman HPP tidak bertambah selama 3 tahun berturut-turut, sebaiknya tidak wajib diulang. HPP harus ditinjau setiap enam bulan, sebelum setiap tahun kenaikan.

Selain itu, ada kalkulasi yang tak terhindarkan antara lain dampak kenaikan inflasi, pelemahan daya beli petani akibat covid-19 yang mengintai. Agar kesejahteraan petani padi tidak stagnan, gabah dan tanaman padi yang sudah 3 tahun tidak berganti, sudah saatnya direformasi.

Yang penting adalah berapa jumlah pembangkit listrik yang paling cocok untuk menciptakan rasa keadilan bagi para petani. Jawaban ini patut mendapat pertimbangan serius.

Dan lagi, promosi pertanian adalah proses belajar, memberdayakan dan menghargai petani dan keluarganya untuk meningkatkan kesejahteraannya.

Dalam perjalanannya sejauh ini, langkah untuk mensejahterakan para petani ini tidak pernah lamban. Oleh karena itu, kebijakan promosi pertanian perlu segera dihidupkan kembali agar petani sejahtera dan bahagia dapat segera diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari di negeri ini.

*) Entang Sastraatmadja; Ketua DPD HKTI Divisi Jawa Barat.