FaktaID

Informasi Berita Terupdate

Januari 28, 2023

Perubahan struktural ini merupakan angin segar bagi industri asuransi. Jika tidak demikian, klaim asuransi kredit yang diterima akan meningkat lebih dari premi

Jakarta (FaktaID) –

Vice President Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Bidang Teknologi Informasi dan Terapan, Dodi Dalimonte mengungkapkan, restrukturisasi kredit berhasil menurunkan rasio klaim yang dibayarkan.Rasio klaim yang diterima) asuransi kredit.

Sehingga hal ini memberikan peluang bagi industri asuransi untuk memperbaiki sisi cadangan. Kondisi ini dapat menjadi pertimbangan dalam memutuskan apakah akan melanjutkan program pelonggaran kredit pada Maret 2023.

“Restrukturisasi ini merupakan angin segar bagi industri asuransi. Tanpa ini, klaim asuransi kredit yang diterima akan meningkat melebihi premi,” kata Doodi dalam acara LPPI Virtual Seminar #89 di Jakarta, Kamis.

Akibat restrukturisasi kredit COVID-19, rasio klaim yang dibayarkan menurun dari 213% di tahun 2020 menjadi 143% di tahun 2021. Hal ini terutama disebabkan oleh implementasi kebijakan tersebut selama setahun penuh pada tahun 2021. Pada tahun 2020, itu hanya diterapkan pada tiga perempat.

Premi pada tahun 2022 diharapkan sama dengan tahun 2021, ujarnya, dengan asumsi rasio klaim yang dibayarkan membaik tanpa adanya dampak Covid-19 tipe delta dan pengurangan jumlah klaim. Saluran distribusi yang berkontribusi terhadap rasio piutang yang buruk.

Selain itu, peningkatan rasio klaim yang dibayarkan pada tahun 2022 juga dimungkinkan karena peningkatan persentase premi asuransi karena penurunan besaran biaya.

Meskipun asuransi kredit mendapat dampak positif dari restrukturisasi, industri asuransi umum telah menyadari kondisi bermasalah yang menutupi asuransi kredit dan mulai memperbaiki dan menyelamatkan, yang tercermin dalam pembentukan besaran. Terjadi tetapi tidak dilaporkan (IBNR) yang ada.

Namun, Doodi menilai tidak semua portofolio asuransi kredit yang ada bermasalah bahkan ada yang membuahkan hasil. underwriting Bagus

Untuk itu perlu disusun rencana perbaikan jangka panjang yang komprehensif dan terlihat terhadap portofolio yang bermasalah pengawasannya oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Dia mengatakan: Transparansi risiko kredit yang ada, terutama dari sudut pandang penjamin akhir (asuransi reliance), sangat rendah.

Koresponden: Agatha Olivia Victoria
Editor: Ahmad Bochuri